Saturday, July 11, 2020

Menu Sore Seru: Lebih suka indomie atau mi sedaap?

Jamur teriyaki dan Lombok ijo teri

Tumis lombol ijo besar itu gak pedes, sedep buat makan. Makin menambah selera makan, menggungah niat makan.  Makan dengan nasi anget atau dingin intinya tetap lezaat. Menu sederhana seperti ini enak dimakan nyemek denga kuah dikit. Tapi gak kuah kuah banget. ๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹



Masih dengan topik kuah kuah nyemek, taraa sudah biasa. Mi goreng. Kali ini aku nyoba mie goreng dari Indomie dengan varian rasa ayam panggang jumbo. Tapi ya sesuai seleraku; harus tetap dengan kuah. Nyemek.. intinya belum pernah mmebuat mi goreng instan apapun merknya secara kering kemarau. Ya tetap harus dengan kuah. Gak marem, udah kebiasaan gitu. Aku lengkapi dengan daun bawang merah goreng, tahu putih goreng gak terlalu mateng, jamur goreng tanpa tepung, dan galantin ayam. Enak.. ya mie dari mie goreng jumbo ini pipih ala mie bakmi sih. Seperti umumnya kelebihan mie dari indofood ya kenyal dan gak mblenyek.
Tetapi seringnya sejak kecil aku, olah mi ya mi sedap. Mie sedap goreng. Bukan indomie. Meski tenarnya di seluruh indonesia indomie. Tapi aku enggak. Keluargaku tiap beli ya mie sedaap.
Sejak awal rilis dulu ya udah suka. Kalau aku gak ngerti sih gimana beda n kelebihan yang signifikan apa. Karena sejak kecil bungkus mie yang paling banyak di kebun belakanh rumah (pawang guwakan sampah) ya mie sedaap
Kalau dulu ya emang belinya mi sedap gak indoni jadi ya gak bisa bedain.
Kalau alasan, ya mungkin keluargaku ya. Tetap ada motivasinya membeli karena apa. Kalau mi sedap itu dulu isinya agak lebih besar gak tau kacek sepiro. Terus bumbunya menyengat dan sesuai namanya lebih sedap. Bawang goreng renyah dan lebih banyak.
Terus.. kalau masak ya dengan kuah. Dimasak dipanci misalnya satu bungkus mi sedap goreng mi keringnya (dulu belum ada eko mie yang tingkat kualitasnua sama dengan mi instan dalam kemasan) jadi ya beli mi kering kecil kecil  itu. Beberapa biji. Dimakan sekeluarga.
Jadi.. kalau tata cara makan mie adalah seperti dalam iklan. Sungguh tidak berlaku dalam keluargaku. Baru sekarang2 aja gak tau kenapa, boleh sih masak mi sendiri,
misal adekku masal satu dimakan sndiri atau aku atau siapa boleh.  Kalau dulu.. mie bagiku termasuk mewah dan makannya harus bareng gak boleh sering. Jadi kalau ortuku gak niat masak ya aku ga makan.
Soal mi goreng dua itu..
Sampai sekarang aku tetap beli mi sedap. Dimanapun.. meskipun mienya kayak gal beraturan dibanding indomie. Meski aku udah liat langsung proses mie di indofood dari awal sampai akhir, pulang dari pabrik orang sekelas masih dibawain puluhan varian mie berbedapun. Tidak mengubah aku. Aku tetap beli mie sedap goreng.
Kalau kuah ya idomie mungkin juaga enak dan banyak varian. Tapi mie kuah ya bagiku mi goreng dikuahi.
Jadi ya gimana...
Kalau untuk mencoba gitu aku beli indomie sih. Karena rasa nusantara. Kalau mie goreng ya mie sedap.
Terus aku ga ngerti juga ya kenapa orang orang yg lebih prefer konsumsi indomi merasa setingkat lebih cerah gitu. Maksudku kek merasa lebih berkelas gitu. Karena aku pernah ya mengalami semacam apa ya, ya bukan bullying sih. Ga semua dimaknai buli.
Apa ya ada orang yang merasa lebih oke aja gitu. "Aku kalau masak mie ya indomi ga mau mie sedap"
Mungkin dengan segenap alasan atau pendapatnya bahwa indomi lebih sehat lebih higenis lebih apa lebih apa. Ya gpp juga sih. Yang penting ga perlu sok memandang rendah orang yg makan mi sedap. (Gue contohnya) merasa berpengalaman dan pintar gitu lho kesannya. Ya banyak sih, tetangga teman atau orang yg mngkin ga sengaka ketemu diwarung atau kebtulan sama sama beli mi.
Kalau alasannya merasa sehat dll. Ya mendinh gak usah konsumsi mi instan sekalian. Kalau mau lebih sehat ya giling aja tepung sendiri atau makan mie thiwul. Ngapain susah susah buang duit buat beli seplastik mi instan.
*konsumen belagu
Dan parahnya harus sok lebih tahu aja gitu. Haduh.. karena pengalaman yg mungkin sering. Sering masalahnya. Kayak gitulah aku jadi enggan beli indomi goreng. Kalau aku pribadi sebenarnya gak masalah sih. Toh aku generalisir kalau mi instan keduanya itu ya berefek...
Sama sama berpenguat rasa tinggi. Ya semacam bumbu kfc yg ada perangsangnya, bikin makan lagi, pingin terus. Rasa rasa nagih. Ya memang penguat rasanya banget. Gak usah dibedakan terlalu mencolok kalau bagiku. Sama sama bilin dedhel uteg juga kok kalau dimakan terus menerus.
Kecuali ada kedekatan atau semacam alasan yang mengikat untuk lebih menyukai, misalnya pemilik indomie keponakanku atau pemilik mie sedap mbokdeku. Baru sih aku ada niatan kepreferean.. yang fanatik.
Selama enggak ada...
Haduh.. ngapain..
Toh cuma konsumen aja, bukan model atau bintang iklannya dari salah satu itu... ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€
Ya berarti strategi brandingnya indomi dalam mengusunh tema Sehat lebih kuat. Mungkin gitu..

Silahkan Tinggalkan Pesan dan Komentar Anda di sini... ; ) Terima Kasih atas Kunjungan Anda...

HARAP JANGAN PANGGIL SAYA "MAS" KARENA OWNER BLOG INI SEORANG WANITA