Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Tuesday, January 13, 2015

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI REMAJA DAN TUGAS PERKEMBANGAN PADA USIA REMAJA

Perkembangan Psikologi Remaja
TANTE AND ME VERSI REMAJA (my twin sister anggi_99)



my sister and my twin sister

Perkembangan Psikologi Remaja
 Pada umumnya remaja didefinisikan sebagai masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.
Setiap tahap perkembangan manusia biasanya dibarengi dengan berbagai tuntutan psikologis yang harus dipenuhi, demikian pula pada masa remaja. Sebagian besar pakar psikologi setuju, bahwa jika berbagai tuntutan psikologis yang muncul pada tahap perkembangan manusia tidak berhasil dipenuhi, maka akan muncul dampak yang secara signifikan dapat menghambat kematangan psikologisnya di tahap-tahap yang lebih lanjut. Berikut ini merupakan berbagai tuntutan psikologis yang muncul di tahap remaja, berdasarkan pengalaman penulis selama menjadi pendidik.
 Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkannya secara efektif
Sebagian besar remaja tidak dapat menerima keadaan fisiknya. Hal tersebut terlihat dari penampilan remaja yang cenderung meniru penampilan orang lain atau tokoh tertentu. Misalnya si Dewi merasa kulitnya tidak putih seperti bintang film, maka Dewi akan berusaha sekuat tenaga untuk memutihkan kulitnya. Perilaku Dewi yang demikian tentu menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri dan orang lain. Mungkin Dewi akan selalu menolak bila diajak ke pesta oleh temannya sehingga lama-kelamaan Dewi tidak memiliki teman, dan sebagainya.
Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orang tua
Usaha remaja untuk memperoleh kebebasan emosional sering disertai perilaku “pemberontakan” dan melawan keinginan orang tua. Bila tugas perkembangan ini sering menimbulkan pertentangan dalam keluarga dan tidak dapat diselesaikan di rumah , maka remaja akan mencari jalan keluar dan ketenangan di luar rumah. Tentu saja hal tersebut akan membuat remaja memiliki kebebasan emosional dari luar orangtua sehingga remaja justru lebih percaya pada teman-temannya yang senasib dengannya. Jika orang tua tidak menyadari akan pentingnya tugas perkembangan ini, maka remaja Anda dalam kesulitan besar. Hal yang sama juga dilakukan remaja terhadap orang-orang ‘yang dianggap sebagai pengganti orang tua’, guru misalnya.
Remaja mampu bergaul lebih matang dengan kedua jenis kelamin
Pada masa remaja, remaja sudah seharusnya menyadari akan pentingnya pergaulan. Remaja yang menyadari akan tugas perkembangan yang harus dilaluinya adalah mampu bergaul dengan kedua jenis kelamin maka termasuk remaja yang sukses memasuki tahap perkembangan ini. Ada sebagaian besar remaja yang tetap tidak berani bergaul dengan lawan jenisnya sampai akhir usia remaja. Hal tersebut menunjukkan adanya ketidakmatangan dalam perkembangan remaja tersebut.
 Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri
Banyak remaja yang belum mengetahui kemampuannya. Bila remaja ditanya mengenai kelebihan dan kekurangannya pasti mereka akan lebih cepat menjawab tentang kekurangan yang dimilikinya dibandingkan dengan kelebihan yang dimilikinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja tersebut belum mengenal kemampuan dirinya sendiri. Bila hal tersebut tidak diselesaikan pada masa remaja ini tentu saja akan menjadi masalah untuk perkembangan selanjutnya (masa dewasa atau bahkan sampai tua sekalipun).
 Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma
Skala nilai dan norma biasanya diperoleh remaja melalui proses identifikasi dengan orang yang dikaguminya terutama dari tokoh masyarakat maupun dari bintang-bintang yang dikaguminya. Dari skala nilai dan norma yang diperolehnya akan membentuk suatu konsep mengenai harus menjadi seperti siapakah “aku” ?, sehingga hal tersebut dijadikan pegangan dalam mengendalikan gejolak dorongan dalam dirinya. Maka penting bagi orang tua dan orang-orang ‘yang dianggap sebagai pengganti orang tua’ untuk mampu menjadikan diri mereka sendiri sebagai idola bagi para remaja tersebut.
Selain berbagai tuntutan psikologis perkembangan diri, kita juga harus mengenal ciri-ciri khusus pada remaja, antara lain:
  • Pertumbuhan Fisik yang sangat Cepat
  • Emosinya tidak stabil
  • Perkembangan Seksual sangat menonjol
  • Cara berfikirnya bersifat kausalitas (hukum sebab akibat)
  • Terikat erat dengan kelompoknya
Secara teoritis beberapa tokoh psikologi mengemukakan tentang batas-batas umur remaja, tetapi dari sekian banyak tokoh yang mengemukakan tidak dapat menjelaskan secara pasti tentang batasan usia remaja karena masa remaja ini adalah masa peralihan.
Pada umumnya masa remaja dapat dibagi dalam 2 periode yaitu:
1. Periode Masa Puber usia 12-18 tahun
a. Masa Pra Pubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas. Cirinya:
  • Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi
  • Anak mulai bersikap kritis
b. Masa Pubertas usia 14-16 tahun: masa remaja awal. Cirinya:
  • Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya
  • Memperhatikan penampilan
  • Sikapnya tidak menentu/plin-plan
  • Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib
c. Masa Akhir Pubertas usia 17-18 tahun: peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen. Cirinya:
  • Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya
  • Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria
2. Periode Remaja Adolesen usia 19-21 tahun
Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:
  • perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
  • mulai menyadari akan realitas
  • sikapnya mulai jelas tentang hidup
  • mulai nampak bakat dan minatnya
Dengan mengetahui berbagai tuntutan psikologis perkembangan remaja dan ciri-ciri usia remaja, diharapkan para orangtua, pendidik dan remaja itu sendiri memahami hal-hal yang harus dilalui pada masa remaja ini sehingga bila remaja diarahkan dan dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya remaja akan tumbuh sehat kepribadian dan jiwanya.
Permasalahan yang sering muncul sering kali disebabkan ketidaktahuan para orang tua dan pendidik tentang baerbagai tuntutan psikologis ini, sehingga perilaku mereka seringkali tidak mampu mengarahkan remaja menuju kepenuhan perkembangan mereka. Bahkan tidak jarang orang tua dan pendidik mengambil sikap yang kontra produktif dari yang seharusnya diharapkan, sehingga semakin mengacaukan perkembangan diri para remaja tersebut. Sebuah PR yang panjang bagi orang tua dan pendidik, yang menuntut mereka untuk selalu mengevaluasi sikap yang diambil dalam pendidikan remaja yang dipercayakan kepada mereka. Dengan demikian, diharapkan para orang tua dan pendidik dapat memberikan rangsangan dan motivasi yang tepat untuk mendorong remaja menuju pada kepenuhan dirinya.

Read more »

PENGERTIAN REMAJA

Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Pasa masa ini sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua.
Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa.





gambar: Dok pribadi
masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.

Read more »

Sunday, December 14, 2014

HASIL WAWANCARA BELAJAR DAN PEMBELAJARAN :FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR SISWA





FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR SISWA



HASIL WAWANCARA
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Belajar dan Pembelajaran
yang dibina oleh Bapak Drs. Prih Hardinto, M.Si




Oleh
Wiwin Juliyanti
110422425527




 










UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN
Desember 2014




BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A.    Hasil Wawancara 



Interviewer                  :Wiwin Juliyanti

Tema                           :Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Siswa
Teknik Wawancara     :1) Sms (short message service)
                                   
Waktu Pelaksanaan     : 5 Oktober-25 Oktober 2014


-------------------------------------------000--------------------------------------------------
 (Tidak dipublikasikan, hanya digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan)



B.     Pembahasan
            Dari  hasil wawancara yang telah saya lakukan diatas, dapat dijelaskan bahwa belajar siswa SMA dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa tersebut dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor intern yang merupakan faktor dari dalam individu yang sedang belajar dan faktor ekstern atau faktor yang ada di luar individu.
            Faktor intern yang terjadi pada siswa tersebut cenderung berasal dari Faktor Psikologis anak, bukan berasal dari Faktor Jasmaniah. Beberapa faktor tersebut diantaranya:
1.      Perhatian
            Menurut Gazali dalam Slameto (2010:56) perhatian merupakan keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu semata-mata tertuju pada suatu objek (benda/hal) atau sekumpulan objek.
            Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbulah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar.
            Dalam hal ini siswa diatas menyebutkan bahwa dirinya malas belajar dikelas dan lebih suka membolos saat jam pelajaran dikarenakan guru yang mengampu mata pelajaran tersebut sangat membosankan. Siswa juga menyebutkan bahwa ada beberapa gutu yang mengajar dengan cara yang keras dan suka memberikan hukuman apabila tugas tidak dikerjakan.


2.      Minat
            Hilgard dalam Slameto (2010:57) menyebutkan bahwa member rumusan tentang minat adalah sebagai berikut: “Interest is persisting tendency to pay attention to enjoy some activity or content”.
            Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan (Slameto,2010:57). Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang. Jadi berbeda dengan perhatian, karena perhatian sifatnya sementara (tidak dalam waktu yang lama) dan belum tentu diikuti rasa senang, sedangkan minat selalu diikuti dengan perasaan senang dan dari situ diperoleh kepuasan.
            Siswa diatas mempunyai minat yang besar terhadap musik dan olahraga bela diri. Hal ini akan mempengaruhi belajarnya, sehingga siwa kurang berminat dalam pelajaran lain seperti Bahasa Indonesia dan IPA, terlebih lagi jika bahan pelajaran dan guru yang mengajar tidak membuatnya tertarik. Sehingga siswa sangat mungkin untuk tidak belajar dengan sebaik-baiknya dan cenderung mengabaikan belajar.
3.      Bakat
            Bakat adalah kemampuan untuk belajar (Slameto,2010:57). Bakat merupakan hal yang mempengaruhi belajar. Jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya lebih baik. Siswa diatas mempunyai bakat dalam musik dan bela diri. Namun sekolah tempatnya belajar tidak memberikan fasilitas yang bisa menampung dan mengembangkan bakatnya.
4.      Motif
            Menurut Slameto (2010:58) motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Didalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motif itu sendiri sebagai pendorongnya.
            Siswa diatas tidak mempunyai motif yang kuat mengapa ia harus belajar. Siswa tidak mempunyai penggerak untuk dapat belajar lebih baik, mempunyai motif berfikir dan memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan/ menunjang belajar.
            Tidak adanya latihan-latihan, kebiasaan-kebiasaan yang kadang-kadang dipengaruhi oleh keadaan lingkungan menjadikan siswa tersebut malas dan kurang semangat belajar.
5.      Faktor Kelelahan
            Kelelahan pada seseorang dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani. Kelelahan jasmani yang mempengaruhi siswa tersbut diakibatka karena kurangnya tidur dan banyaknya waktu yang dihabiskan untuk bermain diluar rumah. Pada siang hari siswa sering menghabiskan waktunya untuk balap motor bersama teman-temannya sedangakan pada malam hari sering main diluar untuk sekedar ngopi dan berkumpul dengan teman.
            Akibatnya siswa menjadi lesu  dan mengantuk ketika sudah dikelas pada pagi hari dan sering tidur disaat jam pelajaran berlangsung.
Faktor-Faktor Ekstern yang mempengaruhi belajar siswa diatas antara lain:
1.      Faktor keluarga
a.      Cara Orangtua Mendidik
            Orangtua dari anak diatas kurang/tidak memperhatikan pendidikan anaknya. Hal ini tercermin dalam sikap mereka yang acuh tak acuh terhadap belajar anaknya, meskipun menyuruh anak belajar namun kurang memperhatikan apa yang sebenarnya diinginkan dan dibutuhkan anaknya. Ketika anak tidak mau belajar orangtua hanya membiarkan saja. Orangtua tidak mau tahu bagaimanakah kemajuan belajar anaknya, kesulitan-kesulitan apa yang dialami dalam belajar sehingga anak kurang berhasil dalam belajarnya.
            Anak tersebut sebenarnya pandai namun karena cara belajarnya tidak teratur, akhirnya kesulitan-kesulitan menumpuk sehingga mengalami ketinggalan dalam belajarnya dan akhirnya anak malas belajar.
            Selain itu orangtua anak juga cenderung memanjakan anaknya. Orangtua selalu menuruti apa yang diinginkan anaknya, bahkan membiarkan tidak belajar dan tidak pernah memaksa belajar.
b.      Suasana Rumah
            Sebenarnya anak mempunyai keinginan untuk belajar dan mengerjakan tugas rumah namun adanya situasi atau kejadian-kejadian yang sering terjadi di dalam keluarga dimana anak berada sangat mengganggu dan tidak nyaman.
            Adanya kegaduhan dan seringnya pertengkaran orangtua menyebakan anak bosan di rumah, suka keluar rumah dan belajarnya menjadi kacau.
c.       Keadaan Ekonomi Keluarga
            Keadaan ekonomi keluarga sangat erat kaitanya dengan belajar anak. Begitu juga dengan siswa narasumber diatas. Karena hidup dari keluarga yang sederhana. Terkadang kebutuhan akan fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung belajar tidak terpenuhi. Selain itu anak juga sering membantu orangtua bekerja.
d.      Pengertian Orangtua
            Dalam kasus diatas anak tidak pernah mendapat dorongan dan pengertian orangtua dalam belajar. Orangtua menyuruh anak belajar namun mereka tetap sibuk dan tidak memikirkan apakah itu akan mengganggu aktivitas belajar anak atau tidak.           Ketika anak sedang ingin belajar, orangtua justru asyik melihat TV dan melakukan aktivitas yang mengurangi konsentrasi belajar anak.
e.       Latar Belakang Kebudayaan
            Adanya latar belakang tingkat pendidikan yang rendah dalam keluarga membuat anak terbiasa hidup tanpa motivasi dan dorongan belajar yang tinggi. Apalagi jika orangtua mempunyai cara pikir bahwa sekolah sekedar formalitas dan tanpa harus sekolah tinggi seseorang akan sukses. Tentu saja hal ini sangat mempengaruhi sikap anak dalam belajar.
2.      Faktor Sekolah
a.      Metode Mengajar
            Dari penjelasan siswa yang menjadi narasumber diatas, tampak bahwa metode mengajar yang terapkan oleh guru-guru disekolahnya membuatnya bosan. Metode mengajar akan mempengaruhi belajar. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi nelajar siswa yang tidak baik pula.
            Metode mengajar kurang baik tersebut diantaranya adalah: cara penyampaian materi yang membuat siswa tegang dan takut dalam kelas, guru biasa mengajar dengan cara otoriter dan keras terhadap siswa. Siswa menjadi sepaneng, bosan dan kurang senang terhadap mata pelajaran dan gurunya. Akibatnya siswa malas untuk belajar.
b.      Relasi Guru dengan Siswa
            Proses belajar mengajar terjadi antara guru dan siswa. Hubungan yang terjadi antara guru dan siswa diatas kurang terjalin dengan baik, terbukti ketika siswa belum paham tidak berani bertanya kepada guru. Meskipun ingin bertanya siswa merasa malu karena dirinya bodoh dan tidak diperhatikan seperti siswa-siswa yang pintar.
            Akibatnya siswa tidak menyukai mata pelajaran yang diberikan sehingga tidak punya keinginan untuk mempelajari dengan sebaik-baiknya. Kurangnya interaksi dan komunikasi antara guru dan siswa secara akrab menyebabkan proses belajar mengajar kurang lancar. Selain itu siswa merasa jauh dariguru dan segan berpartisipasi secara aktif dalam belajar.
c.       Relasi Siswa dengan Siswa
            Relasi yang terjadi antarsiswa yang terjadi dalam kelas narasumber juga kurang baik. Siswa yang mempunyai sifat-sifat atau tingkah laku yang kurang menyenangkan teman lain, mempunyai rasa rendah diri( seperti yang dialami narasumber), atau sedang mengalami tekanan-tekanan batin akan diasingkan dari kelompok.
            Tidak adanya hubungan yang akrab antarsiswa juga mengakibatkan timbulnya rasa minder. Seperti yang dialami narasumber, ia merasa bodoh, tidak berani meminta bantuan dalam belajar kepada siswa yang dianggap pandai. Narasumber beranggapan bahwa teman-teman yang pandai pasti tidak mau mengajari teman bodoh seperti dirinya. Meskipun kenyataannya siswa yang pandai belum tentu seperti yang dipikirkan oleh narasumber, namun sudah jelas terlihat bahwa buruknya relasi yang terjadi memberikan pengaruh negatif terhadap belajar siswa.
f.       Disiplin Sekolah
            Meskipun kedisplinan sekolah terkait kerajinan siswa dalam belajar dan sekolah seperti pemberian sangsi dan hukuman dimaksudkan untuk membuat siswa disiplin dan bertanggungjawab, namun terkadang hal tersebut dapat membuat siswa malas dan terbiasa melanggarnya.
            Seperti yang dialami oleh narasumber, adanya peraturan yang selalu memberikan sangsi dan hukuman membuatnya semakin malas dan tidak peduli dengan belajar. Siswa berpikir mereka tidak diberi kebebasan, karena sedikit-sedikit dihukum. Pada akhirnya mereka justru semakin mengabaikan kedisiplinan itu. Karena yang sebenarnya mereka butuhkan bukan hanya hukuman dan hukuman tetapi pengertian dan perhatian yang tidak membuat mereka merasa jelek.
3.      Faktor Masyarakat
a.      Teman Bergaul
            Pengaruh dari teman bergaul dalam lingkungan masyarakat siswa lebih cepat masuk dalam jiwanya. Adanya teman bergaul yang kurang baik dalam lingkungan siswa (narasumber) berpengaruh kurang baik pula terhadap diri siswa tersebut. Teman-teman bergaul narasumber adalah orang-orang yang suka bergadang,keluyuran, merokok dan balap motor.
b.      Bentuk Kehidupan Masyarakat
            Kehidupan masyarakat di sekitar siswa juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Karena kebanyakan masyarakat disekitar dan pemudanya yang suka balap motor maka siswa (narasumber) juga terpengaruh untuk mengikuti gaya mereka.
C.    Kesimpulan
            Buruknya hasil belajar yang dialami oleh siswa (Bagus Noermikha) disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi belajarnya. Faktor tersebut berupa faktor intern dan ekstern. Beberapa faktor intern yang menyebabkan siswa malas belajar dan mengabaikan tugas sekolah adalah:
1.      Kurangnya perhatian terhadap pelajaran sekolah.
2.      Siswa mempunyai minat dalam mata pelajaran lain, namun tidak didukung oleh ketersediaan fasilitas yang ada.
3.      Beberapa pelajaran yang diperoleh di kelas dianggap tidak sesuai dengan bakat yang dimiliki siswa.
4.      Siswa diatas tidak mempunyai motif yang kuat mengapa ia harus belajar.
5.      Seringnya mengalami kelelahan fisik karena banyak menghabiskan waktu untuk bergadang dan bermain diluar.
Faktor-Faktor Ekstern yang mempengaruhi belajar siswa diatas berasal dari keluarga, sekolah dan masyarakat yaitu:
1.      Cara orangtua mendidik anak tersebut yang cenderung menuruti semua keinginan anak dan membiarkan melakukan apa yang diinginkan oleh anak.
2.      Adanya kegaduhan dan seringnya pertengkaran orangtua menyebakan anak bosan di rumah, suka keluar rumah dan belajarnya menjadi kacau.
3.      Terkadang kebutuhan akan fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung belajar tidak terpenuhi. Selain itu anak juga sering membantu orangtua bekerja.
4.      Anak tidak pernah mendapat dorongan dan pengertian orangtua dalam belajar
5.      Adanya latar belakang tingkat pendidikan yang rendah dalam keluarga membuat anak terbiasa hidup tanpa motivasi dan dorongan belajar yang tinggi.
6.      Metode mengajar yang terapkan oleh guru-guru disekolahnya membuatnya bosan.
7.      Hubungan yang terjadi antara guru dan siswa diatas kurang terjalin dengan baik, terbukti ketika siswa belum paham tidak berani bertanya kepada guru.
8.      Tidak adanya hubungan yang akrab antarsiswa juga mengakibatkan timbulnya rasa minder.
9.      Adanya peraturan yang selalu memberikan sangsi dan hukuman membuatnya semakin malas dan tidak peduli dengan belajar.
10.  Adanya teman bergaul yang kurang baik dalam lingkungan siswa (narasumber) berpengaruh kurang baik pula terhadap diri siswa tersebut.
11.  Siswa mengikuti gaya hidup masyarakat tempat ia tinggal seperti bergabung dalam genk motor dan sering keluyuran di malam hari.
D.    Saran
1.      Baik siswa maupun guru harus memahami pentingnya motivasi belajar pada diri si pebelajar (siswa) agar dalam diri siswa terdapat kekuatan mental penggerak belajar.
2.      Guru sebagai pembelajar memiliki kewajiban mencari, menemukan dan diharapkan memecahkan masalah belajar siswa yang diakibatkan oleh beberapa faktor yang ada seperti penyampaian materi, metode mengajar dan kemampuan pedagogis untuk mengarahkan dan membimbing siswa-siswanya.
3.      Orangtua dan keluarga sebagai lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi seorang anak harus memahami betapa pentingnya peranan mereka dalam pendidikan anaknya. Orangtua dan keluarga harus mendidik anaknya dengan cara yang benar, menciptakan relasi antaranggota keluarga yang kuat, dan menciptakan suasana rumah yang harmonis dan membuat anak merasa nyaman.
4.      Dibutuhkan peran semua pihak tak terkecuali masyarakat dan pemerintah untuk mengusahakan lingkungan yang baik agar dapat memberi pengaruh yang positif terhadap anak/siswa agar dapat belajar dengan sebaik-baiknya.

Read more »

Silahkan Tinggalkan Pesan dan Komentar Anda di sini... ; ) Terima Kasih atas Kunjungan Anda...

HARAP JANGAN PANGGIL SAYA "MAS" KARENA OWNER BLOG INI SEORANG WANITA